Jumat, 31 Mei 2013

MENGENAL KATEGORI TANAMAN TEBU


Gambar 1. Contoh tanaman ratooncane2
Jika kita mengenal TBM (tanaman belum menghasilkan) dan TM (tanaman menghasilkan) pada tanaman tahunan seperti pada tanaman karet atau sawit, lalu bagaimana dengan tanaman tebu? Sesuai sifat tanaman tebu yang merupakan tanaman semusim, maka pengkategorian tanaman tidak didasarkan pada sudah menghasilkan apa belum karena pasti akan menghasilkan tebu pada tahun itu juga. Pengkategorian tebu didasarkan pada sudah berapa kali tanaman tebu tesebut dikepras. Dikepras  di sini berarti tanaman tebu tersebut setelah dipanen,  tunggul tebunya dibiarkan bertunas lagi dan dirawat lagi tanpa perlu menanam bibit tebu dari awal lagi. 

Kategori tanaman tebu adalah sebagai berikut:

  1. Tanaman PC (pant cane)
Tanaman plant cane adalah tanaman tebu yang pertama kali di tanam pada lahan yang belum pernah ditanam tebu sebelumnya. Misalnya dari bukaan hutan yang sudah di landclearing atau lahan eks komoditi lain. Karena sifatnya yang pertama kali tanam tebu, diharapkan produktivitas ton/ha tebu bisa lebih dari 90-150 ton/ha.

  2. Tanaman RPC (replanting cane)
Replanting cane adalah tanaman tebu yang ditanam dari pembongkaran tanaman tebu yang sudah ada sebelumnya. Lahan tebu yang sudah ditebang terlebih dahulu dilakukan persiapan dan pengolahan tanah (bajak-garu-ridger/kair) baru kemudian dilakukan penanaman menggunakan bibit bagal. Pada beberapa tempat kategori PC dan RPC disatukan menjadi tanaman PC (plant cane) untuk mempermudah penamaan, ada juga yang dipisah antara PC dan RPC. Karena tanaman ini ditanam dari bibit dan dilakukan pengolahan tanah dengan baik, maka produktivitas ton/ha diharapkan bisa maksimal 90-120 ton/ha.

  3. Tanaman RC (ratoon cane)
Tanaman ratoon cane adalah tanaman tebu yang yaang berasal dari tanaman tebu sebelumnya yang telah ditebang, kemudian tunggulnya dibiarkan bertunas lagi dan dilakukan perawatan tanpa perlu menanam bibit lagi dari awal. Tanaman ratoon dikategorikan lagi menjadi ratoon cane1, ratoon cane2 dan seterusnya sampai ratooncane 4.
  • RC1, tanaman ratoon yang berasal  dari keprasan tanaman PC yang telah ditebang sebelumnya (baru sekali dikepras).
  • RC2, tanaman ratoon yang berasal dari RC1 yang dikepras setelah ditebang sebelumnya(dua kali dikepras).
  • RC3, tanaman ratoon yang berasal dari RC2 yang dikepras setelah ditebang sebelumnya (tiga kali dikepras).
  • RC4, tanaman ratoon yang berasal dari RC3 yang dikepras stelah ditebang sebelumnya (empat kali dikepras).
Tanaman ratoon biasanya populasinya tidak serapat pada tanaman PC atau RPC sehingga semakin tinggi ratoon maka produktivitasnya semakin rendah. RC1 biasanya lebih rendah dari PC, RC2 lebih rendah dari RC1 dan seterusnya. Produktivitas ton/ha tebu untuk RC4-RC1 berkisar antara 55-80 ton/ha.

Kamis, 09 Mei 2013

MENGENAL TATA LETAK (LAYOUT) KEBUN PADA PERKEBUNAN TEBU SKALA BESAR

MENGENAL  TATA LETAK (LAYOUT)  KEBUN PADA PERKEBUNAN TEBU SKALA BESAR

Gambar1. Ilustrasi foto udara
Dalam pengelolaan perkebunan tebu skala besar (estate) dengan luasan 20.000-an hektar sangat diperlukan penataan petak kebun yang tepat sehingga memudahkan manajemen operasional di kebun, terutama dalam hal akses jalan untuk angkutan pekerja, angkutan material, angkutan tebangan, akses unit traktor/alat berat, pencegahan kebakaran, pencegahan penularan hama penyakit. Lebih dari itu, penataan kebun juga dimaksudkan untuk mempermudah pengerahan tenaga kerja maupun unit  pada suatu hamparan tertentu sehingga diperoleh effiiensi dan efektifitas yang tinggi.  Seperti pernah dibahas dalam artikel sebelumnya bahwa dari luasan 20.000 tersebut dibagi menjadi divisi-divisi plantation dengan luasan per divisi 5000-an hektar, selanjutnya luasan tersebut dibagi menjadi blok-blok kebun dengan luasan per blok 100-200 ha. Adapun  blok-blok tersebut kemudian dibagi lagi menjadi satuan terkecil luasan yang disebut petak kebun dengan luasan 8 hektar per petak (200mx400m).
Lalu bagaimana pentaan jalan dan blok-blok kebun tersebut? Akses jalan utama disebut mainroad, jalan ini merupakan jalan as yang membelah hamparan kebun dengan arah timur-barat. Sehingga membagi luasan kebun menjadi dua hamparan besar yang berimbang luasannya, yaitu yang di utara mainroad dan yang diselatan mainroad. Mainroad dipilih arah timur barat dengan tujuan supaya jalan terkena sinar matahari langsung sepanjang hari sehingga mudah kering, apalagi pada musim hujan. Mainroad ini diberi tanda kilometer setiap 1 km, dari km 0 pada pintu gerbang masuk (maingate) sampai dengan km terakhir pada perbatasan kebun terakhir. Lebar mainroad 20 meter. Selanjutnya pada setiap 1 km dibuat jalan tegak lurus mainroad sampai dengan terakhir batas kebun, jalan ini disebut secondary road di mana lebar jalan 15 m. Orang biasa menyebut dengan jalan second, dari second km1 sampai dengan second km terakhir. Selanjutnya setiap 1 km dari mainroaad dibuat secondary road searah mainroad (timur-barat) sehingga akan ada second1, second2, dan seterusnya sampai dengan perbatasan terakhir. Dari penataan ini sudah terbentuk kota-kotak besar seluas 1kmx1km  (100 ha), kotak besar inilah kemudian disebut blok kebun. Dalam blok kebun tersebut kemudian dibuat petak-petak kebun dengan luasan 8 ha (200x400m). Jalan pemisah antar petak dalam blok tersebut infieldroad dengan lebar 8 m. Adapun bagi petak-petak yang berbatasan dengan lebung/rawa dibuat jalan dengan lebar 4 m dan dinamakan perimeter road.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana penamaan blok? Di atas telah disebutkan bahwa mainroad membagi luasan menjadi 2 bagian besar, yaitu wi
layah di utara mainrod dan wilayah yang di selatan mainroaad. Adapun posisi pabrik dan kantor central bisanya dibuat di tengah-tengah antara wilayah barat dan timur, sehingga akan membagi wilayah kebun menjadi 2 wilayah besar lagi, yaitu wilayah disebelah barat pabrik dan wilayah di sebelah timur pabrik.  Posisi pabrik inilah yang akan menjadi titik as penentuan nama petak. Apabila kita gabungkan antara posisi pabrik dan mainroad maka kebun kita akan terbagi menjadi empat wilayah besar yaitu:
  1. Wilayah timur utara, untuk mempermudah diberi nama alpha (A)
  2. Wilayah timur selatan, untuk mempermudah diberi nama bheta (B)
  3. Wilayah barat selatan, untuk mempermudah diberi nama charlie (C)
  4. Wilayah barat utara, untuk mempermudah diberi nama delta (D)

Penamaan blok dibentuk dari posisi wilayah, berapa km jaraknya dari pabrik, letaknya berapa km dari mainroad. Contohnya blok Delta 22/1, artinya blok tersebut berada di wilayah delta (barat utara), berjarak 22 km dari pabrik, 1 km ke utara mainroad. Mudah bukan?
Blok tersebut selanjutnya terbagi atas petak-petak di mana tata nama petak dibuat lebih detail lagi sesuai dengan posisi bloknya. Sebagai contoh 221D15/8ha, artinya petak tersebut terletak pada blok delta 22/1, terletak pada wilayah delta (barat utara), 22.1 km dari pabrik, 1.5 km ke utara mainroad, luas 8 ha. Luas tersebut adalah luas baku sesuai dengan pengukuran dari bagian survey dan pemetaan kantor central.


Jumat, 21 Desember 2012

IKHLAS DALAM BEKERJA


IKHLAS DALAM BEKERJA


Maha suci Alloh yang telah menciptakan manusia dalam kesempurnaan akal dan fisik. Yang melalui kekuasaaanNya manusia bisa mengindera suatu fakta dan menghubungkan dengan pengetahuan yang dimilikinya sehingga bisa menarik kesimpulan dan memahami fakta yang dihadapi. Karena pengetahuan dan asumsi masing-masing orang berbeda maka wajar jikalau pendapat seseorang bisa saja berbeda dengan orang lain. Sedikit intro untuk membuka pikiran kita tanpa bermaksud membuat kita menggurui.
Lalu apa hubungannya dengan ikhlas dalam bekerja? Ijinkan penulis sedikit berbagi cerita. Sudah menjadi tradisi menjelang akhir tahun kita sebagai karyawan menerima SK hasil penilaian kinerja atau bagi para pimpinan perusahaan saatnya menilai kinerja pekerjanya  selama setahun, apalah istilahnya mungkin di setiap perusahaan akan berbeda istilahnya. Tentunya tidak dipungkiri hasil penilaian ini berhubungan dengan kenaikan berkala/golongan yang ujung-ujungnya berdampak langsung pada nominal gaji. Menurut pengalaman penulis pada saat inilah banyak anak buah yang “merajuk” alias ngambek, karena merasa penilaian kinerjanya tidak sesuai yang diharapkan. Ada cerita menarik ketika sang atasan memberikan amplop SK penilaian kepada anakbuahnya yang sudah 4 tahun “mentok” golongannya karena memang yang bersangkutan secara standard formasi perusahaan tidak memungkinkan naik karena harus kualifikasi sedangkan persyaratan pendidikan yang bersangkutan tidak mencukupi. Tidak seperti kawan-kawannya yang sama-sama mentok, dia justru mengucap syukur atas apapun yang dia dapat. “Insya Alloh kalau kita kerja ikhlas, Alloh akan memudahkan rejeki kita pak, yang penting barokah pak”, ujarnya dengan tersenyum. Dalam obrolan selanjutnya dia mengatakan bahwa datangnya rejeki tidak hanya melalui perusahaan dan tidak selalu berbentuk uang gaji. Bisa lewat kesehatan, melalui kondisi keluarga yang damai, sekolah anak-anaknya yang lancar hingga sampai perguruan tinggi, melalui usaha sampingan dan lain-lain. Bahkan buah keikhlasan dalam bekerja tidak hanya dinikmati sendiri, mungkin bisa saja yang akan menikmati anak cucunya. Sungguh filosofi kehidupan yang menyejukkan hati.
Ikhlas dalam pengertian syara’ yang juga bisa diaplikasikan dalam pekerjaan kita sehari-hari adalah melakukan pekerjaan dengan dilandasi keinginan mencapai ridho Alloh. Ibnu Qoyyim R.A memberikan kiat untuk bisa ikhlas, yaitu janganlah engkau mencari saksi atas amalmu kecuali Alloh dan jangan mengharap balasan kecuali kepada Nya. Semoga bisa menjadi renungan.
Viva Plantation! Viva agroindustri Indonesia!!



Sabtu, 10 Juli 2010

TANTE GIRANG


Saya berharap anda tidak terprovokasi dengan judul artikel yang sengaja penulis ungkapakan dengan cara yang tidak biasa. Tante girang yang dimaksudkan adalah kepanjangan dari ungkapan “tanaman tebu gap tinggi tumbuh jarang-jarang”. Seringkali ini adalah pangkal masalah tidak tercapainya target produksi. Sebagaimana kita ketahui dalam budidaya tanaman tebu ada beberapa parameter  penentu keberhasilan pencapaian target produksi:

·         Populasi

Ada dua aliran dalam permainan populasi dalam usaha pencapaian TCH yang optimal. Ada yang berpendapat semakin banyak semakin baik, ada pula yang menganut pemikiran bahwa terlalu banyak populasi justru malah mengundang penyakit dan tebu cenderung rubuh. Walhasil ada dua aliran sistem tanam. Sistem tanam single row (biasanya PKP 135 cm sehingga panjang juringan per hektar 7400 m) dan sistem tanam double row ( biasanya PKP 185 cm dimana jarak antar 2 juring kecil dalam satu juring besar adalah 40-50 cm. Sistem tanam double row merupakan komodifikasi dari sistem tanam single row sempit (PKP120 cm ke bawah).

·         Jumlah batang per meter

Jumlah batang per meter erat kaitannya dengan populasi. Apa gunanya panjang juringan dalam satu hektar dibuat tinggi (misal dengan sistem double row) sedangkan jumlah  batang per meter kurang dari standart. Idealnya dalam satu meter jumlah batang adalah 12, walaupun kenyataannya bisa bervariasi dari 8-12 tergatung performa tanaman. Jumlah batang bisa dimaksimalkan sejak penyaiapan lahan (LP), proses tanam yang seharusnya mulai dari bibit yang baik, sistem ecer overlap 25-50%, covering yang baik, compacting, irrigasi yang cukup sampai upaya sulam untuk mengurangi gap.

·         Tinggi batang

Tinggi batang sebenarnya erat dengan berat batang. Semakin tinggi maka potensi berat akan semakin bagus. Idealnya tinggi tebu adalah 250cm atau lebih. Tinggi batang yang maksimum bisa dimaksimalkan dengan sistem pengolahan tanah dalam dan perlakuan subsoiling baik pada tanaman PC maupun ratoon. Dengan pengolahan tanah dalam ini diharapkan perakaran tebu bisa menembus lapisan keras  (hardpan) sehingga asupan unsur hara akan maksimal. Selain itu akan memperkokoh sistem perakaran sehingga tebu tidak akan mudah rubuh akibat gangguan angin ribut. Hal lain yang mempenaruhi tinggi batang adalah jenis tanah dan kekeringan. Pada tanah-tanah berat tinggi batang cenderung tidak maksimal. Demikian pula apabila terkena kekeringan dalam jangka waktu yang lama, pertumbuhan ruas cenderung pendek. Idealnya tinggi batang tebu adalah 2,5-3 m.

·         Diameter batang

Semakin  besar diamater batang tentunya akan memperbesar bobot tebu sehingga diharapkan TCH akan naik demikian juga TSH.

·         Rendemen

Rendemen adalah perbandingan antara bobot tebu yang diolah dengan hasil gula yang dihasilkan. Potensi rendemen pada masing-masing varietas mempunyai keragaman. Sedapat mungkin potensi rendemen di kebun bisa diraih sampai ditingkat pengolahan di pabrik. Idealnya rendemen paling tidak adalah 8%.

Balik ke masalah tebu jarang-jarang, menurut penulis merupakan akibat dari banyak faktor. Bisa jadi pengolahan tanah, bibit, tanam, pengendalian gulma maupun perawatan. Tergantung dari kepiawaian kita meramu masing-masing kegiatan atau tahapan budidaya sehingga tujuan akhir, yaitu ton tebu per hektar (TCH) setinggi mungkin, untuk PC minimal 85 ton dan ton gula per hektar (TSH) diharapkan minimal 6 ton. Bisakah! Pasti Bisa!! (tentunya dengan ijin yang Maha Kuasa)

KALIBRASI IMPLEMENT PUPUK MEKANIS (FERTILIZER APPLICATOR) SECARA SEDERHANA.


Dalam industri perkebunan, pemupukan memiliki peran sangat penting dalam pencapaian target produksi. Dalam konteks perkebunan tebu adalah pencapaian ton tebu/ha (TCH), rendemen ataupun ton gula/ha (TSH). Selanjutnya bila dirunut lagi komponen sukses/tidaknya pemupukan adalah:

1.      Waktu aplikasi

2.      Dosis pemupukan

3.      Cara aplikasi.

4.      Kondisi implement fertilizer applicator apabila pempukan dilakukan secara mekanis.

5.      Kondisi fisik-kimawi tanah

6.      Kondisi kekerasa tanah (berpengaruh pada kemampuan tyne implement fertilizer applicator untuk membenamkan pupuk ke dalam tanah).

Dalam artikel ini kita akan lebih membahas aplikasi pemupukan pada tanaman tebu menggunakan implement pupuk mekanis. Kenapa perkebunan tebu skala luas (6000-20.000) lebih menyukai pupuk mekanis?

1.      Lebih cepat

Kapasitas pupuk mekanis dua mata dengan tenaga tarik traktor TS 90 HP adalah 0,8-1 ha/HM sehingga dalam satu unit per hari bisa mencapai minimal 8 ha. Bandingkan dengan pupuk yang ditabur manual, 1 HK kemampuannya maksimal 1 ha (pada tenaga manual, semakin besar beban kerja kualitas kerja biasanya semakin turun).

2.      Membutuhkan tenaga kerja lebih sedikit.

Dengan rata-rata hasil kerja 8 ha/hari diperlukan tenaga kerja aduk/curah pupuk 2-3 orang dan seorang operator. Bandingkan dengan tenaga yang diperlukan pada pemupukan manual, untuk hasil 8 ha/hari minimal diperlukan 8 tenaga tabur dan 2 orang tenaga umbal/ecer pupuk.

3.      Aplikasi lebih merata karena pupuk terbenam didalam tanah s/d 10cm.

Bandingkan dengan tabur pupuk manual, pupuk hanya ditabur dikanan kiri juringan dengan kerataan yang tidak sama(tebal tipis) dan tidak dibenam dalam tanah. Sehingga sangat mudah menguap pada saat panas dan tercuci apabila terkena hujan.

4.      Lebih mudah dalam pengawasan

Pengawas cukup memantau satu atau beberapa unit alat saja sedangkan pada pupuk maual pengawas harus mengawasi banyak orang dengan karakter masing-masing.

5.      Penyelewengan pupuk dapat diperkecil.

Pada pemupukan mekanis semua pupuk dikumpulkan pada satu titik. Kemudian beberapa jenis pupuk dicampur secara manual oleh tenaga pengaduk (bisa juga dicampur secara mekanis sebelumnya di gudang) dan ditaruh kembali dalam sak-sak. Bandingkan pada pemupukan mekanis, sak-sak pupuk harus diecer di kanan kiri petak sehingga potensi pupuk dicuri sangat besar.

Baiklah, penulis kira sudah cukup pembahasan pendahuluan tentang pemupukan mekanis. Selanjutnya kita berkenalan dengan implement pupuk mekanis (Fertilizer Applicator). Implement yang biasa digunakan di perkebunan tebu adalah dengan sistem ulir di mana ulir digerakkan menggunakan PTO traktor. Terdapat dua hopper dengan dua bukaan pada masing-masing hopper. Dari bukaan ini pupuk disalurkan ke selang penyalur, kemudian jatuh di belakang tyne dan kemudian alur pupul ditutup oleh wing kecil. Selengkapnya dapat dilihat pada gambar  di atas.

Pertanyaan selanjutnya bagaimana cara mengkalibrasi implement agar dosis per hektar bisa tepat. Hal ini sangat penting mengingat pekerjaan ini menyangkut material pupuk yang sangat mahal harganya. Kesalahan kalibrasi bisa mengakibatkan tekor pupuk (terlalucepat) atau sisa pupuk (terlalu lambat) yang berpotensi pada penyelewengan pupuk.  Secara garis besar, kalibrasi dimulai dari berapa dosis pupuk (campuran urea, TSP dan KCL) yang harus diaplikasi per hektar. Selanjutnya dihitung berapa gram pupuk yang searusnya jatuh per corong per meter juringan. Dari dosis per meter tersebut dapat ditentukan berapa kecepatan maju traktor, gigi berapa yang harus dipakai. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah ukuran bukaan hopper ke corong penyalur, bukaan yang terlalu sempit pupuk bisa tekor, sedangkan kalau terlalu sempit pupuk bisa menggumpal.

Jumat, 09 Juli 2010

ORANG LAPANGAN HARUS MEMAKAI SEPATU BOOT!!


Bismillah….kembali meluangkan waktu untuk menulis sedikit renungan di tengah kesibukan kerja mengurus unit alat berat untuk pengolahan tanah dan alat berat infrastruktur. Entah kenapa teringat kejadian berapa tahun yang lampau di lampung hanya karena masalah sepatu. Beberapa hari yang lalu seorang kolega menegur saya ” wealah pak, sinder koq sepatu ne bodhol ngono, gek ndang tuku sing anyar” Artinya kurang lebih begini: Sinder koq sepatunya sudah butut kayak gitu, buruan beli baru. Sambil meringis saya jawab sekenanya ” banyak kenangannya pak, hehehe”. Memang sepatu saya yang sebelah kanan di bagian tumitnya sudah sobek, belum sempat beli lantaran hampir tiap hari pulang maghrib.

Sebenarnya bukan masalah sepatu baru merk apa yang akan saya beli, tetapi kenapa di perusahaan ini sepertinya tidak ada orang yang peduli keharusan bahwa setiap karyawan yang bekerja di kebun harus memakai sepatu boot. Masih banyak karyawan yang memakai sepatu ket atau sepatu kantoran, bukan hanya level karyawan pelaksana, tetapi unsur pimpinan juga cuek-cuek saja memakai sepatu kantoran yang disemir ”kinclong”. Saya bukan anti kebersihan dan kerapian, tidak jua berarti orang lapangan harus berkotor-kotoran ria, tetapi lebih kepada keinginan untuk menempatkan segala sesuatu sesuai porsinya. Saya ingat betul beberapa tahun yang lalu, betapa anak buah saya yang seorang mandor spraying herbisida ketakutan bukan kepalang ketika ketahuan oleh Plantation Manager (Kepala Bagian Tanaman) bahwa dirinya memakai sepatu ket pada saat bekerja. Sudah ter-mindset pada pikiran karyawan bahwa orang plantation (bagian tanaman rayon/afdeling) harus memakai sepatu boot. Jadi semua karyawan plantation dari tenaga harian, mandor, conductor, supervisor (mandor besar), officer(sinder), manajer divisi (sinder kepala) sampai plantation manager (Kepala Bagian Tanaman) dipastikan memakai sepatu boot, bukan sekedar mematuhi aturan, tetapi lebih sebagai identitas bahwa inilah kami orang lapangan! Bahkan di beberapa kesempatan saya menyuruh pulang beberapa tenaga harian saya lantaran nekat bekerja memakai sepatu ket/sandal di lapangan.

Sebagai orang lapangan, tentu bukan hal yang aneh kalau setiap kali kita mengecek pekerjaan pasti belepotan lumpur, apalagi kalau musim hujan. Petak kebun ibarat rimba raya, bisa saja kita ketemu kobra waktu masuk juringan, atau menginjak tunggul kayu yang bisa melukai kaki. Nah apa jadinya kalau pengawas yang kita tugaskan di petak tersebut memakai sepatu ket. Sudah pasti dia akan nongkrong di pinggiran petak, walhasil kualitas pekerjaan di dalam petak tidak akan termonitor, biaya kebun tetap keluar padahal hasilnya nihil. Itulah filosofi kenapa semua personel lapangan harus memakai sepatu boot. Pernah di suatu waktu, kolega saya dibuat sibuk karena anak buahnya harus dirawat di rumah sakit karena kakinya melepuh karena terperosok di tumpukan blothong yang membara. Kejadian ini dampaknya sebenarnya bisa diminimalkan seandainya pekerja tersebut memakai sepatu boot.

Nah, marilah mulai sekarang kita berikan pemahaman kepada kawan-kawan di lapangan betapa pentingnya memakai sepatu boot. Tentunya bukan hanya menyuruh atau menghimbau, marilah kita berikan contoh dari kita sendiri. Meminjam kalimat yang biasa terpampang di pintu masuk pabrik ”Marilah kita gelorakan kesehatan dan keselamatan kerja!”

Kamis, 04 Maret 2010

MARILAH KITA MENCINTAI PERUSAHAAN KITA BERGANTUNG HIDUP


”Assalamu’alaikum. Selamat pagi dan salam sejahtera. Terimakasih atas kehadiran bapak-bapak semua. Pada kesempatan yang baik ini saya mengajak kerpada diri saya dan juga kepada bapak-bapak semua untuk senantiasa mencintai perusahaan tempat kita bergantung hidup. Yah, memang perusahaan ini belum bisa memberikan semua keinginan kita, tapi lihatlah anak-anak kita tumbuh dan besar dari tebu yang kita tanam. Keluarga kita bisa hidup cukup bahkan anak-anak kita bisa kuliah karena keuntungan dari produksi gula perusahaan ini. Marilah kita mencintai perusahaan ini dengan cara bekerja dengan ikhlas dan optimal di masing-masing bagian. Jangan menjadi beban perusahaan, setiap dari bapak-bapak yang hadir disini tidak boleh tidak punya peran dalam pencapaian keuntungan perusahaan kita.”

 

Demikian kalimat pembukaan yang dilontarkan seorang sinder kepada anak buahnya ketika membuka rapat kerja bulanan. Memang tidak mudah memberikan pemahaman betapa penting rasa cinta dan kebanggaan kepada perusahaaan. Bukan hanya level pekerja pelaksana, pekerja level pimpinan pun kadang masih belum menyadari. Rasa cinta bertautan dengan rasa syukur kita atas nikmat pekerjaan yang kita peroleh ketika kita mengabdikan diri sebagai karyawan pada suatu perusahaan. Orang yang pandai bersyukur tentunya akan melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai karyawan dengan penuh rasa ikhlas dan tanggungjawab. Sepanjang perusahan telah menunaikan kewajibannya kepada karyawannya maka tidak ada alasan para karyawan berkeluh kesah dan bermalas-malasan. Sepanjang kita masih mau menerima uang gaji bulanan(beserta tunjangan perusahaan, lembur, THR, jaminan kesehatan, bonus tahunan) maka tidak ada alasan untuk tidak memberikan kontribusi bagi pencapaian keuntungan perusahaan sesuai dengan fungsi dan tanggungjawab kita.

Pimpinan saya, dalam beberapa kesempatan sering mengatakan janganlah kita menjadi benalu bagi perusahaan. Setiap dari kita adalah bagian dari organisasi perusahaan yang harus berkontribusi bagi keuntungan perusahaan. Ingat, kita adalah karyawan perusahaan, walaupun berlabel ”perusahaan plat merah”, yang hanya digaji dari keuntungan perusahaan. Kasarnya kalau tidak untung ya tidak gajian. Bagi perusahaan BUMN yang tidak bisa bersaing di pasar bebas, bukan tidak mungkin pemerintah selaku pemegang saham akan menjual ke swasta daripada menyuntik bantuan modal. Bagi mereka yang hanya menuntut hak tanpa menunjukkan kinerja dan produktivitas adalah benalu persahaan yang menggerogoti dan membebani perusahaan. Perusahaan BUMN bukanlah perusahaan yang bebas PHK. Anda ingat kasus IPTN (yang sekarang bermetamorfosis menjadi PT DI). Bagi perusahaan yang menghasilkan produk barang/jasa dengan biaya produksi yang tidak bisa besaing akibat terlalu tingginya biaya produksi (anda tahu salah satunya karena terlalu tingginya biaya overhead dan menggaji karyawan yang tidak produktif) pelan tapi pasti akan dilindas jaman, lama kelamaan akan terbelit kesulitan finansial dan akhirnya dinyatakan pailit. Kalau ini sudah terjadi karyawan hanya bisa ”melongo” kenapa bisa begini? Apalagi menjelang diterapkannya AFTA (Zona perdagangan bebas asia) di mana produk-produk luar negeri dengan mutu yang sama dengan produk dalam negeri tetapi dengan harga yang jauh lebih murah akan membanjiri pasar dalam negeri.  Jadi semua tergatung dari diri kita masing-masing, tidakkah kita merasa terhina dan bersalah menjadi benalu perusahaan? Tunjukkan kinerja kita, tunjukkan bahwa perusahaan tidak salah memilih kita sebagai karyawan. Tidak puas dengan gaji yang diberikan perusahaan? Maka bersikap satrialah sebagai seorang lelaki, mintalah pensiun dini secara terhormat, bukannya  ngrecokin  rekan-rekan kerja yang ingin bekerja dengan baik.