Minggu, 18 Januari 2009

Industri Perkebunan Indonesia, bersaing di tengah krisis

Adalah menjadi isu yang sedang hangat diperbincangkan para ahli, krisis global yang telah berlangsung pasca lebaran 2008 dan hingga sekarang belum menunjukka tanda-tanda untuk mereda. Semua bidang usaha terkena dampaknya tak terkecuali bidang agroindustri dan turunannya. Sebagai seorang yang mengandalkan hidup dari sektor ini ijinkan saya berpendapat dan mengeluarkan uneg2. Mohon dikoreksi kalau apa yang saya tulis ini ada kesalahan.
Perkebunan Kelapa sawit yang selama ini berjaya karena tingginya harga CPO, bahkan beberapa bulan sebelum krisis harga CPO sempat meroket, kini tak kuasa menerima kenyataan jatuh bebasnya harga CPO hingga 30% dari harga normal. Tak ayal gelombang PHK menjadi momok bagi para karyawan Perkebunan Kelapa Sawit. Di tingkat petani pun tidak lebih baik kondisinya, mereka harus puas menerima harga jual TBS (tandan buah segar) yang hanya Rp 400/kg dari semula mencapai Rp1500-1800/kg. Hal ini ditengarai karena Indonesia terlalu fokus ke industri hulu, sedangkan industri hilir kurang dikembangkan. Sehingga terjadi oversupply CPO di pasaran internasional sedangkan industri dalam negeri hanya mampu menyerap kurang leboh 30% produksi CPO. Sehingga apabila terjadi krisis di luar negeri harga jual CPO mudah sekali jatuh. Tampaknya Indosnesia harus belajar dari Malaysia yang mempersiapkan perkebunan kelapa sawit dan industri turunannya sebagai satu paket sehingga mempunyai kekuatan mengontrol supply dan harga yang jauh lebih kuat di pasaran internasional. Sementara masuknya investasi perkebunan malaysia di indonesia tak lebih sebagai suatu cara sistematis untuk menjadikan Indonesia hanya sebagai pemasok bahan mentah CPO, sementara industri turunannya di persiapkan di singapura, malaysia dan China.
Adapun perkebunan Karet baik Korporat maupun rakyat tidak lebih baik kondisinya. Harga Lateks dan bokar (bahan olah karet) turun drastis di tingkat petani dan di level industri pengolahan karet (SIR,RSS) banyak rekanan dari Amerika dan Eropa yang membatalkan kontrak. Apalagi industri otomotif dunia yang merupakan salah satu konsumen terbesar dari ekspor olahan karet indonesia sedang mengalami gonjang-ganjing akibat terpaan badai.
Dengan keadaan yang demikian tentunya kita masyarakat Indonesia terutama yang terlibat langsung dengan industri perkebunan sangat berharap agar krisis ini segera berakhir. Sebagai orang yang menggantungkan hidup sebagai pekerja perkebunan saya mengajak kepada semua rekan untuk mengencangkan ikat pinggang, baik level pimpinan maupun pelaksana. Karena perusahaan tempat bernaung masing-masing sedang mengalami kesulitan keuangan akibat jatuhnya harga jual dan naiknya biaya produksi walaupun saat ini harga BBM sudah turun.
Adapun pada industri gula, tampaknya krisis global tidak terlalu berpengaruh mengingat pangsa pasar industri gula adalah pasar dalam negeri sehingga harga jual tidak jatuh. Tetapi harus diingat krisis global bagaikan efek domino, dia akan terus memunculkan akibat di semua sektor. Harga produksi akan terus naik sementara daya beli masyarakat dan industri akan menurun. Masyarakat dan Industri akan sangat berhati-hati membelanjakan uangnya sehingga pergerakan roda ekonomi akan sangat lesu pada tahun ini.
Namun apapun yang terjadi kita harus tetap optimis. Industri Perkebunan Indonesia akan tetap exist di tengah badai. Bagaikan karang yang tak bergeming meski diterpa ombak dan badai. Jayalah Agroindustri Indonesia!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar